Minggu, 03 April 2011

10 Kebiasaan Baik

SEPULUH KEBIASAAN BAIK

1. Bangunlah 1 jam lebih awal dari biasanya untuk saat teduh.
2. Lepaskanlah Roh Pengampunan terlebih dahulu, kemudian ampunilah orang lain dan ulurkanlah tangan untuk damai.
3. Buanglah kebiasaan untuk mencari-cari kesalahan orang lain.
4. Ingatlah bahwa hari ini dapat menjadi hari terakhir bagi Anda.
5. Berusahalah untuk mengembangkan buah Roh Kudus dan kekuatanNya.
6. Jangan terpuruk untuk masalah yang sedang Anda hadapi. Ingatlah Roma 8:28.
7. Tunjukkanlah kebaikan Anda kepada orang lain dengan penuh kerendahan hati.
8. Tingkatkanlah belas kasihan Anda kepada orang lain sesuai dengan Hati Tuhan Yesus.
9. Jangan memperbesar hal-hal kecil yang ada di dalam hidup Anda.
10. Berjuanglah untuk memiliki hati Tuhan Yesus dengan kesembilan buah Roh Kudus : kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kelemahlembutan, penguasaan diri. (anonymous)

TAKUT KEPADA TUHAN

TAKUT KEPADA TUHAN

Mazmur 103:13  “Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia”

 bapa sayang anak  bila anak m’senang orang tua  cara sayang yg betul  bila salah ditegur

 takut pd Tuhan  perlu : krn ada hukuman, krn k’suci Tuhan, ada p’ampun

Alasan yg m’kuat agar kita “takut” pada Tuhan :
• Wahyu 14:7  ada p’hakim/p’adil
• Wahyu 15:4  krn kesucianNya
• Lukas 12:5  kuasa luar biasa
• Mazmur 130:4  ada p’ampunan
• 1 Samuel 12:24  ada kebajikan, hal-hal besar yg d’laku Tuhan utk kita

Takut akan Tuhan  takut yg positif  krn takut pd Tuhan bukan takut spt phobia atau sindrom traumatis yg m’rugi  ttp takut pada Tuhan m’hasil banyak hal.

Berperilaku takut pada Tuhan  spt dlm Amsal 8:13 : Takut akan Tuhan ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat.

Hasil takut pada Tuhan :
1. Amsal 14:26  k’tentram
2. Amsal 14:27  sumber k’hidup
3. Amsal 10:27  m’perpanjang umur
4. Amsal 22:4  k’kaya, k’hormat dan k’hidup
5. Mazmur 115:13  d’berkati Tuhan
6. Amsal 9:10  permulaan hikmat

Contoh orang yang takut akan Tuhan :
• Abraham  Kejadian 22:12
• Kisah Rasul 9:31  jemaat pertama-tama
• Nehemia  Nehemia 5:15

Demikian Firman Tuhan, kiranya menguatkan iman percaya Saudara dan saya. Amin.

Tuhan memberkati

Minggu, 20 Februari 2011

Renungan Hari ini

SUAP-MENYUAP DALAM BISNIS


“Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.” (Filipi 3:12)

Salah satu isu penting yang mencuat kepermukaan saat ini dalam bidang hukum dan peradilan di tanah air adalah soal Suap-Menyuap yang sejodoh dengan Pungli (pungutan liar). Bagian yang tidak terpisahkan dari KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) yang sekarang merupakan target pemerintah untuk di berantas.
Bagaimanakah sikap kristiani menghadapi salah satu perilaku bisnis yang bukan saja menggejala tetapi sudah merupakan jalan hidup apa yang disebut sebagai ‘ekonomi biaya tinggi’ yang sudah melekat dalam budaya bisnis di Indonesia?

Menghadapi masalah suap-menyuap, setidaknya kita memiliki dua kutub ekstrim, dimana di satu sisi orang berdasarkan pola ‘win-win-solution’ menganggap bahwa suap-menyuap adalah soal biasa dan tidak apa-apa selama kedua belah pihak di untungkan. Pandangan ini memang bersifat Machiavellian yang bersemboyan ‘tujuan menghalalkan cara.’ Yang jelas praktek yang menganggap praktek suap-menyuap adalah biasa sudah kita lihat sebagai penyebab keruntuhan ekonomi negara dan bangsa Indonesia, dan soal inipun yang sekarang ingin diberantas.
Dimanakah posisi umat Kristen menghadapi dilema ini? Dilema yang menyebabkannya terperosok kepada buah simalakama yaitu ‘maju kena, mundur kena,’ suatu kondisi praktek perekonomian yang mau tidak mau harus dilakukan kalau kita hidup di Indonesia. Mulai dari membuat KTP, Izin Bangunan, SIM, Perpanjangan STNK, Pajak sampai mengurus Perizinan Usaha maupun praktek berusaha, seseorang tidak bisa lepas dari adanya praktek Suap-Menyuap dan Pungli.

Ada pengusaha Kristen yang berpendapat bahwa: (1) Karena kita berada di Indonesia dimana kita tidak bisa mengubah apa-apa, maka ikut serta dalam kebiasaaan ekonomi secara umum adalah biasa dan wajar; (2) Ada juga mengusaha yang mengatakan bahwa kalau kita menyuap untuk mengubah kepatutan hukum maka itu dosa, namun kalau kita sudah mengurus mengikuti kepatutan hukum dan karena pejabat bersangkutan membutuhkan biaya karena gajinya kecil ya tidak salah melakukannya; dan (3) Ada juga yang berpendapat, bahwa seorang Kristen yang lahir baru dilarang ikut terjun mempraktekkan suap-menyuap atau pungli karena itu dosa.
Yang manakah dari ketika praktek bisnis itu yang kita ikuti? Yang jelas, pertama kita sudah tahu bahwa membiarkan praktek suap-menyuap dan pungli seperti sekarang tentu menyedihkan hati Tuhan karena praktek demikian menguntungkan penguasa dan pengusaha tetapi sudah jelas merusak ekonomi bangsa dan negara. Lalu bagaimana dengan praktek kedua yang kelihatannya lebih manusiawi, disatu sisi kita tidak berbuat dosa dengan mengubah kepatutan hukum, tetapi kita dapat membantu para petugas lapangan yang miskin agar mereka bisa ikut menikmati keuntungan bisnis yang diperoleh.

Jelas pula praktek kedua ini tidak beda dengan praktek pertama, sebab bagaimana kita dapat membedakan mana perilaku suap yang mengubah kepatutan hukum dan mana yang tidak, soalnya batas antara keduanya adalah tipis dan tumpang tindih, kedua praktek ini tidak lain adalah praktek berdasarkan ‘etika situasi’. Bagaimanapun, orang yang menyuap karena kasihan tentu tujuannya agar prosesnya diperlancar dan konsekwensinya adalah mereka yang tidak bisa menyuap alias tiadanya dana atau miskin jelas akan selalu dirugikan karena berkasnya akan ditumpuk di bagian yang terbawah yang kemungkinan tidak akan naik-naik alias prosesnya akan terhambat.

Tapi apakah alternatif ketiga dapat dilakukan? Melihat nafas Injil agar kita melakukan ‘Ya di atas ya dan tidak di atas tidak’ kelihatannya kekristenan menolak praktek suap-menyuap dan pungli dan menganggapnya sebagai dosa yang tidak patut dilakukan oleh umat Kristen. Tetapi, apakah seorang kristen bisa sama sekali lepas dari praktek suap-menyuap dan pungli demikian?
Kita harus menyadari bahwa fakta menunjukkan bahwa tidak mungkin seseorang di Indonesia terbebas sama sekali dari praktek suap-menyuap maupun pungli. Tetapi, lalu bagaimana kita bisa berbisnis dan tidak melanggap perintah Tuhan agar kita hidup lurus dihadapan-Nya tanpa menyimpang ke kanan maupun kekiri?

Kelihatannya Alkitab memberi jalan keluar dalam hal ini. Alkitab tidak mengajarkan hitam-putih secara ekstrim, melainkan praktek hitam yang harus ditobatkan dan mengubahnya menjadi praktek putih yang diperkenan Allah. Rasul Paulus dalam suratnya menyebut:
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2).
Apakah etika yang Yesus ajarkan bertentangan dengan yang diajarkan oleh Paulus, soalnya Paulus masih memiliki reserve dalam etikanya ketika ia mengatakan:
“Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu dipikirkan, tetapi hendaklah kamu berfikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.” (Roma 12:3).
Rupanya apa yang diajarkan Yesus memang itulah yang harus dilakukan umat Kristen agar kita tidak berbuat dosa dengan tidak melakukan suap-menyuap maupun pungli, ini adalah tujuan akhir kebenaran, sebagai gawang (goal) bagi permainan sepak bola. Namun Rasul Paulus menyadari bahwa tidak semua orang memiliki kadar iman yang sama. Baik Tuhan Yesus maupun rasul Paulus mengajarkan mengenai proses pertumbuhan rohani, dari benih diatas tanah berbatu-batu sampai ke tanah yang baik, dari kanak-kanak sampai dewasa, jadi baik Tuhan Yesus maupun para Rasul lainnya melihat iman bukan sekedar sebagai realita hitam-putih, tetapi realita ‘hitam bertumbuh menuju putih.’
Apa yang dikatakan rasul Paulus dalam Roma 12:3 menunjukkan agar kita berfikir sesuai taraf pertumbuhan kita, artinya bila kita memandang soal suap-menyuap dan pungli, kita harus tetap menganggapnya sebagai dosa dan tujuan hidup kita adalah mencapai goal kehidupan yang jujur dan bersih. Namun, Paulus mensyaratkan bahwa untuk mencapai itu ada proses dan sekalipun seorang Kristen tetap harus menganggap ‘yang salah adalah salah’ ia mendorong umat Kristen untuk menjauhi dosa itu sesuai kadar iman masing-masing sampai mencapai kesempurnaan. Jadi bukan seorang yang bertobat langsung bisa berperilaku putih bersih, tetapi seseorang yang mulai beriman akan mengalami pergumulan untuk terus menerus memperbaiki perilakunya sehingga ia dapat berpindah dari dosa kepada kebenaran.
Rasul Paulus dalam suratnya kepada orang Korintus fasal 8 juga berbicara mengenai pengetahuan Kristen, bagaimana orang yang baru beriman masih belum memiliki pengetahuan dan masih beriman lemah, namun ia mendorong umat Kristen agar terus bertumbuh agar dapat mencerna makanan keras.
Dalam perikop bacaan di atas, rasul Paulus berbicara mengenai Kebenaran yang Sejati (Filipi 3:1b-16) yang kita peroleh ketika kita masuk iman sehingga ia melepaskan segala sesuatu yang lama yang sekarang dianggapnya sampah agar ia memperoleh Kristus (ayat-8). Sikap ini timbul bukan karena mengikuti peraturan Torat yang hitam-putih, tetapi timbul karena kepercayaan kepada Kristus dan anugerah kebenaran Allah (ayat-9). Kelihatannya kalau perikop ini diaplikasikan dalam masalah suap-menyuap dan pungli, rasul Paulus mengajarkan kepada kita untuk rela mengalami penderitaan, jadi kalau berbisnis dan urusan ditolak atau dipersulit karena kerinduan kita untuk hidup makin hari makin baik, maka rasanya kita harus menerimanya dengan syukur. Rasul Petrus pun menyebut penderitaan karena iman kita itu baik daripada kita menderita karena mencuri atau berbuat jahat (1Petrus 4:15-16). Akhirnya rasul Paulus mengajak kita agar terus menerus melupakan yang dibelakang dan mengarahkan kepada tujuan (goal) yang ada dihadapan. Dengan demikian kita makin sempurna dalam sikap bisnis kita dari pelaku suap-menyuap dan pungli menjadi seorang yang berbisnis benar sesuai kehendak Tuhan Yesus! Amin!

http://chrisna.blogdetik.com/2008/07/05/suap-menyuap-dalam-bisnis/

Rabu, 22 Desember 2010

Rahasia Pencurahan Berkat


“Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.” Mazmur 133:1-3


Berkat menjadi suatu hal yang sangat didamba-dambakan bagi manusia. Siapa yang tidak senang jika dapat diberkati tidak hanya secara rohani dan damai sejahtera yang melimpah, tetapi juga diberkati dengan kesehatan jasmani, kekayaan materi, posisi, jabatan dan lainnya?
Banyak sekali umat Tuhan yang mengejar-ngejar berkat ketika mereka datang beribadah ke gereja atau persekutuan. Tetapi ketika mereka telah berkali-kali datang beribadah ke gereja, mereka malah tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sehingga keraguan bahkan kekecewaan mulai timbul dalam diri mereka. Berkat telah Tuhan sediakan bagi setiap orang percaya. Tetapi ada satu hal yang paling sering dilupakan, yang merupakan syarat agar berkat Tuhan dapat mengalir bagi kehidupan kita. Apa yang menjadi syarat agar berkat Tuhan tercurah bagi kita?

“Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!” Maz 1:1

Ketika kita sudah melakukan hal-hal yang Tuhan minta, ketika kita sudah rajin beribadah ke gereja, kita sudah memberi kepada orang yang membutuhkan bantuan, kita mengasihi sesama, mengampuni orang yang menyakiti; ada satu hal yang Tuhan minta dari kita, yaitu kerukunan.
Kerukunan di antara keluarga, suami-istri, orangtua-anak, kakak-adik, pimpinan-karyawan, gembala-pengerja-jemaat; merupakan syarat yang paling penting agar berkat Tuhan dapat mengalir bagi kehidupan kita.
Hubungan suami dan istri yang harmonis akan membawa kepada berkat yang berkelimpahan. Ketika tidak ada kerukunan di antara hubungan kita, maka berkat Tuhan akan tertahan. Sebab Firman Tuhan dalam Mazmur 1:3 dengan jelas sekali mengatakan bahwa Tuhan ‘memerintahkan’ berkat ke tempat di mana ada kerukunan.

Oleh karena itu segala pertengkaran, selisih paham, keributan, permusuhan, harus segera diselesaikan dan dipulihkan agar berkat dapat tercurah bagi kehidupan kita.
Tuhan sudah menyediakan berkat yang luar biasa bagi kita semua. Kita tinggal meraihnya. Binalah kerukunan di antara hubungan dengan sesama. Bangunlah hubungan dengan dasar kerukunan, maka kita akan melihat berkat-berkat yang sudah Tuhan sediakan dicurahkan bagi kehidupan setiap orang yang percaya kepadaNya.

http://www.pelitahidup.com

Selasa, 12 Oktober 2010

Mengenal KehendakNya

Sering kita bertanya ... benarkah yang kita lakukan?! apakah yg terjadi padaku adalah rencanaNya, mengapa begitu menyakitkan? Mungkin dua hal itu dulu ... dan bukankah keduanya bermakna meragukan hadirat Allah dalam hidup kita?
Sebagai orang percaya ... kita harus belajar dan berusaha senantiasa mengimani bahwa selama kita berjalan dalam terang kebenaran Firman Tuhan maka setiap yang terjadi dalam hidup kita adalah rencana Tuhan yang indah dalam hidup kita. Karena rancangan Tuhan dalam hidup kita adalah rancangan damai sejahtera yang memberikan hari depan yang penuh harapan.
Mengenal kehendakNya hanya bisa kita rasakan bila kita bergaul karib dengan Tuhan, melalui doa-doa dan persekutuan ibadah. Roh Kudus menguatkan iman percaya kita dan menopang kita saat jatuh karena hidup kedagingan kita.

Sabtu, 09 Oktober 2010

Lebih dari Pemenang

Lebih dari pemenang dalam sgala perkara
Iblis tlah dikalahkan oleh kuasa darahNya
jika Allah dipihak kita siapa dapat melawan
kita lebih ... lebih dari pemenang!

Senin, 08 Februari 2010

Pacar Yang Ideal

Memilih pasangan hidup adalah salah satu masa transisi paling penting dalam kehidupan anak-anak Allah. Sehingga seringkali diantara kita menjadi tidak dikenan Allah, karena pasangan hidup yang kita pilih tidak sesuai dengan kehendak Allah. Dan pada akhirnya kita tidak dapat melaksanakan Firman Tuhan dalam Amsal 18:22 yaitu ”siapa mendapat istri (suami), mendapat sesuatu yang baik, dan ia dikenan Allah”.

Untuk mendapatkan sesuatu yang baik dan dikenan Allah, kita perlu melakukan uji seleksi yang ketat untuk menentukan calon pasangan hidup kita. Lalu timbul pertanyaan : seperti apakah pacar yang ideal itu? Bukankah sebagai manusia yang masih hidup di dunia (dalam daging dan dosa) tidak seorang pun yang ideal? Karena seringkali orang yang kita cintai mengecewakan hati kita, mengingkari janji, melakukan perbuatan yang tidak dikenan Tuhan dan lain sebagainya.

Mencari calon pasangan hidup atau pacar bagi anak-anak Allah harus dilakukan secara selektif. Untuk itu kita tidak dapat secara serampangan menentukan calon pasangan apalagi sampai berganti-ganti pacar dengan dalih mencari yang terbaik. Perilaku seperti ini sangat bertentangan dengan ajaran Kristus.

Dari beberapa uraian tokoh-tokoh rohaniawan yang kompeten, penulis mendapatkan suatu kesimpulan dan berusaha memberikan suatu wawasan pemikiran tentang pacar yang “ideal” dari sisi iman Kristiani kita.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mencari/menentukan calon pasangan hidup :

I. Realitas Kehidupan

A. Jangan berdasarkan emosi/ romantika

Emosi/ romantika dalam menentukan calon pasangan hidup seringkali menjadi batu sandungan bagi anak-anak Allah. Erotika yang muncul akibat emosi yang dikedepankan sering membuat kita terjebak dalam perbuatan-perbuatan yang tidak dikenan Allah. Sumber-sumber emosi dan romantika tersebut adalah pengaruh lagu-lagu pop, buku-buku cerita, majalah dan film. Pernikahan dengan landasan emosi-romantis, bila tidak diperbaharui dengan pertobatan / lahir baru, akan berakhir dengan perceraian (25% kasus).

B. Masa depan emosional

Kenyataan dunia saat ini, banyak kaum muda-mudi yang terkungkung dalam rancangan-rancangan masa depan yang duniawi dan penuh emosi kedagingan, misalnya :

1. Bersama dengan kekasih merancang hidup yang serba indah dan menyenangkan. Misalnya mereka-reka jumlah anak, saling memanggil dengan sebutan yang hanya layak bagi pasangan suami istri, dll.

2. Terlena dalam keindahan mencintai dan dicintai.

3. Menganut pandangan bahwa kasih + gairah dan rayuan + romantika tidak dapat dipisahkan. Hal ini akan berakhir pada petaka/celaka/ terputusnya kasih sejati Tuhan dengan kita.

Dari pandangan-pandangan duniawi tersebut muncul persyaratan-persyaratan duniawi dalam menentukan pasangan hidup : misal pacar harus ganteng/cantik, perlente, pribadi menarik, kaya dan berkedudukan dll.

C. Realita kehidupan lain

1. Manusia hidup dengan kelemahan dan kekurangan sebagai perwujudan dari sosok orang berdosa.

2. Pernikahan membutuhkan kematangan fisik, emosi dan intelektual. Secara fisik, maturitas dibutuhkan sebelum menikah, keadaan fisik yang tidak matang menimbulkan masalah kesehatan di kemudian hari. Emosi yang matang dibutuhkan untuk memudahkan penyelesaian masalah. Tanpa kematangan emosional, setiap permasalahan keluarga akan diselesaikan melalui percekcokan, selisih pendapat dan kemungkinan berujung pada perceraian.

3. Pernikahan membutuhkan pengembangan kasih sejati, tanggung jawab dan kesetiaan. Kasih sejati antar pasangan suami-istri akan menjadi pondasi yang baik bagi timbulnya rasa tanggung jawab dan kesetiaan antar pasangan.

4. Harus melihat kenyataan dan dapat menilai pribadi dan sifat-sifat orang lain. Kita adalah ciptaan yang serupa dengan Allah, kita dikaruniai kemampuan untuk dapat menilai dan mengobservasi sifat orang lain di sekitar kita. Dari sini kita mendapat salah satu dasar membuat suatu kesimpulan menentukan calon pasangan hidup kita.

5. Pernikahan bukan menuntut, tetapi apa yang dapat diberikan dan disumbangkan dalam pernikahan kelak. Pernikahan bukan terminologi mencari orang/pasangan yang terbaik, tetapi berupaya menjadi orang yang tepat/baik bagi orang lain/pasangan kita. Untuk dapat bersikap hati seperti ini, kita harus dipenuhi oleh kerendahan hati. Sekali saja ego kita turut campur dalam kehidupan pernikahan, maka keretakan bahtera rumah tangga yang kita dapatkan.

6. Keputusan menikah harus diambil dengan sikap rela hati. Dengan demikian setelah menikah nantinya setiap pasangan akan dapat menikmati jalannya kehidupan pernikahan dalam suasana senang dan susah.

7. Mempunyai kesadaran yang baik saat mengambil keputusan : MENIKAH, karena terkait dengan masa depan dan sifat pernikahan yang permanen, sekali seumur hidup. Tentu saja hal ini dilandasi dengan iman bahwa pernikahan adalah LEMBAGA ALLAH, yang tidak dapat dan tidak diperbolehkan diintervensi oleh kepentingan manusia yang terkait dengan lembaga itu.

II. BAGAIMANA KEHENDAK TUHAN

Yang menjadi titik berat dalam menentukan “kamulah tulang rusuk saya” atau “aku adalah tulang rusukmu” adalah dengan mencari kehendak Allah terlebih dahulu. Lalu bagaimana caranya?

1. Melalui Firman Tuhan

Dalam II Korintus 6:16-18, jelas dan tegas disebutkan pasangan tidak seiman berarti bukan kehendak Allah. Karena bila itu terjadi sama artinya kita menyekutukan Allah dengan berhala atau memaksakan terang bercampur dengan gelap. Tuhan mungkin mengijinkan bila hal itu terjadi (pasangan tidak seiman), namun itu terjadi hanya karena kekerasan hati kitamempergunakan hak bebas yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita. Dan seringkali kita menyalahgunakan hak bebas tersebut. Dalam dunia yang semakin kejam kita harus bijaksana dalam bertindak. Kebijakan pemerintahan banyak negara melegalkan pernikahan lintas iman hanyalah kebijakan duniawi. Harus kita cermati hal ini adalah upaya-upaya kuasa gelap untuk menurunkan kualitas keimanan kita sebagai orang percaya.

2. Melalui doa

Memohon pimpinan Allah untuk menetapkan calon pasangan hidup adalah langkah yang bijaksana dan berkenan bagi Allah. Pergumulan menetapkan calon pasangan hidup tidak terjadi secara kebetulan/ mendadak. Dalam kehidupan Kristiani, kita tidak bisa main “tembak” dalam menentukan pasangan. Kalau hal itu terjadi maka landasan yang dipakai adalah emosi romantika, bukan iman Kristiani. Lamanya proses doa/ jawaban doa sangat bervariasi bagi setiap orang. Bisa 1 hari, 1 minggu, 1 tahun, 2 tahun dan sebagainya. Hal ini sangat tergantung dari keeratan hubungan kita dengan Tuhan dan kepekaan kita terhadap tanda-tanda yang diberikan Tuhan pada kita.

3. Melalui konsultasi dengan orang tua, pendeta dan ahli

Sering kaum muda mengabaikan beliau-beliau ini dan memilih “curhat” pada teman sebaya yang notabene pengalamannya masih sama-sama minim. Pandangan dari orang tua/Pendeta/ahli (psikolog/ konsultan pernikahan) dapat memperkaya wawasan kita tentang pacar ideal. Pandangan orang tua dan ahli menjadi semakin berguna bila mereka juga telah lahir baru, memiliki hubungan yang mesra dengan mas Krist (Yesus-Red).

4. Melalui Akal Budi

Telah diuraikan di depan bahwa kita adalah ciptaan yang serupa dengan Allah, dilengkapi dengan akal budi. Kita dapat merenungkan / memikirkan untuk mengambil keputusan “menikah” dilandasi oleh pemikiran bahwa menikah adalah kejadian sekali seumur hidup.

5. Bertindak

Kita harus mempunyai inisiatif untuk mencari calon pasangan hidup. Tidak hanya tinggal diam dan berdoa saja tetapi juga berusaha mendapatkannya. Lalu dimana kita berupaya mendapatkan? Tentu saja di lingkungan yang dikenan Allah, misalnya dalam pertemuan-pertemuan ibadah dll. Bukan di mall, diskotek atau bahkan pergi ke dukun!

III. KEPRIBADIAN

A. Watak Kepribadian

Hal ini fokus utama dari penilaian kepribadian. Tidak hanya tampan/cantik, terpelajar, berkedudukan. Kedekatan kekasih hati kita dengan Allah adalah hal yang lebih utama. Sehingga kelak apabila sudah menjadi pasangan hidup kita, dia mampu menguatkan, menjadi pasangan yang seimbang, menjadi pemimpin keluarga yang handal. Dalam firman Tuhan pun telah tertulis, banyak pasangan yang tidak memiliki hubungan intim dengan Tuhan akan terjatuh dalam dosa. Lihat bagaimana Hawa mempengaruhi Adam untuk melanggar perintah Tuhan, begitu juga dengan “polah tingkah” pasangan Annanias dan Safira.

B. Pribadi yang Dewasa

Pribadi yang dewasa mempunyai ciri mengutamakan Tuhan dalam segala hal, stabil emosi dan intelektualnya, dapat bergaul dan menyesuaikan diri, dapat mengatasi kesulitan, mendahulukan kepentingan keluarga daripada pribadi, bertanggung jawab dan dapat dipercaya, berbadan sehat. Untuk ciri yang terakhir perlu kita pertimbangkan tetapi bukan hal dominan, karena bukankah Allah kita sendiri adalah Tabib yang Ajaib, dengan kuat kuasa-Nya, sakit penyakit apa yang tak bisa dikalahkan?

Demikian sharing / renungan yang dapat saya bagikan. Kiranya dapat menjadi berkat bagi kita semua. Menjadi modal untuk menentukan pasangan hidup yang berkenan bagi Tuhan. Mungkin membutuhkan waktu yang tidak pendek. Tetapi kita harus tetap setia berdoa meminta kepada Tuhan pasangan yang sepadan dan seimbang. Kadangkala kekecewaan / kepahitan juga kita alami dalam memilih / mencari pasangan hidup. Dan saat itu seringkali kita lupa bahwa kita sudah memiliki kekasih

hati dan sahabat sejati yang tidak mungkin mengecewakan … YESUS KRISTUS.

Tamat. Shallom Alahim.